Friday, 23 April 2021

Cara Hitung Pajak Perusahaan Lengkap dengan Contohnya

Cara Hitung Pajak Perusahaan

Hallo para wajib pajak (WP), sudah tau belum cara  hitung pajak perusahaan yang mudah? Jika Anda sudah mengetahui cara menghitung pajak perusahaan pasti akan terasa sangat mudah, tapi bagaimana dengan para wajib pajak yang baru terdaftar menjadi wajib pajak badan atau perusahaan tentu akan sulit menghitung pajak jika belum tahu cara menghitungnya.


Perlu diketahui bahwa syarat utama menjadi wajib pajak adalah harus tahu betul ilmu tentang perpajakan, mulai dari objek pajak, subjek pajak, hitung pajak, kategori pajak dan lainnya. Hal ini tentu bukan hanya untuk wajib pajak perusahaan atau badan saja, semua wajib pajak harus tahu betul tentang perpajakan sebab setiap kategori wajib pajak tentu punya aturannya masing-masing yang pastinya berbeda baik dari segi tarif pajak ataupun cara menghitung pajak penghasilannya pun berbeda.


Hal mendasar yang harus diketahui wajib pajak adalah jika Anda salah dalam menghitung pajak baik melebihi ataupun kurang dari nominal yang seharusnya dibayarkan maka perusahaan akan dikenakan sanksi akibat kekeliruan atas perhitungan pajak setelah membayar dan melaporkan pajak.


Untuk menghindari kekeliruan dalam menghitung pajak, pada artikel kali ini akan membahas secara detail cara menghitung pajak perusahaan atau badan.


Hal pertama yang harus dilakukan wajib pajak adalah membuat pembukuan baik pemasukan mapupun pengeluaran sebagaimana diatur dalam UU KUP pasal 28 ayat 1, bahwa wajib pajak badan diwajibkan untuk menyelenggarakan pembukuan. Hal ini dilakukan supaya saat tiba waktu bayar pajak datang, perusahaan bisa menghitung berapa besar penghasilan kena pajak.


Kemudian setelah melakukan pembukuan, untuk mengetahui besaran pajak penghasilan harus menghitung penghasilan keseluruhan selama satu tahun kemudian untuk mengetahui penghasilan kena pajak, Anda harus mengurangi penghasilan satu tahun dengan biaya-biaya pengeluaran selama satu tahun ang meliputu biaya sewa, pembelian bahan, biaya perjalanan, biaya berkenaan dengan pekerja baik itu gaji maupun tunjangan, biaya bunga, royalti, premi asuransi, biaya promosi dan penjualan, biaya pengelolaan limbah dan biaya administrasi. Setelah penghasilan setahun dikurangi semua biaya di atas wajib pajak akan mengetahui berasan penghasilan kena pajak.

Lantas bagaimana cara menghitung pajak penghasilan bruto?

Dalam perhitungan pajak penghasilan bruto dibedakan menjadi 3 kategori:

  1. Besaran peredaran bruto kurang dari Rp. 4.800.000.000
  2. Besaran peredaran bruto kurang dari Rp. 50.000.000.000
  3. Besaran peredaran bruto lebih dari Rp. 50.000.000.000

Untuk lebih jelasnya silahkan simak beberapa contoh peehitungan nyata tentang pajak penghasilan bruto.


Pertama, jika misalkan perusahaan A memiliki peredaran bruto sebesar Rp. 4.000.000.000 dengan penghasilan kena pajak sebesar Rp.700.000.000. dengan peredaran bruto di bawah Rp. 4.800.000.000 maka seluruh bagian peredaran bruto dapat memperoleh fasilitas pengurangan tarif sebagaimana di atur dalam UU KUP. Berikut cara hitungnya


Rumus untuk PPh badan dengan peredaran bruto di bawah 4,8 miliar adalah (Pengurangan Tarif x Tarif PPh x Penghasilan kena pajak)

Jadi perhitungannya = 50% x 25% x Rp. 700.000.000 = Rp. 87.500.000

Jadi perusahaan A harus membayar pajak sebesar Rp. 87.500.000


Kedua, perusahaan B memiliki peredaran bruto sebesar Rp. 40.000.000.000 dengan penghasilan kena pajak Rp. 700.000.000. Karena peredaran di bawah Rp. 50.000.000.000 maka perhitungannya sesuai dengan pasal 31E. Berikut cara hitungnya:


Ada lima bagian yang harus dihitung terlebih dahulu untuk mendapatkan hasil akhir dana yang harus dibayarkan pajak. Pertama menghitung penghasilan kena pajak dengan fasilitas. Rumusnya (Batas Peredaran Bruto yang mendapatkan fasilitas tarif/Peredaran Bruto x Penghasilan Kena pajak. Kedua menghitung PPh untuk Bagian dengan Fasilitas dengan rumus (pengurangan tarif x penghasilan kena pajak dengan fasilitas). Ketiga, menghitung bagian penghasilan kena pajak tanpa fasilitas (penghasilan kena pajak – penghasilan kena pajak dengan fasilitas). Keempat rumus menghitung PPh untuk Bagian tanpa fasilitas (tarif PPh x penghasilan kena pajak tanpa fasilitas). Dan terakhir rumus besaran PPh Badan Perusahaan B  (PPh bagian dengan fasilitas + PPh bagian tanpa fasilitas).


Perhitungan bagian pertama, Rp. 4.800.000.000/ Rp. 40.000.000.000 x Rp. 700.000.000 = Rp. 84.000.000

Perhitungan bagian kedua, 50% x 25% x Rp. 700.000.000 = Rp. 87.500.000

Perhitungan bagian ketiga, Rp. 700.000.000 – Rp. 87.500.000 = Rp. 612.500.000

Perhitungan bagian keempat, 25% x Rp. 612.500.000 = Rp. 153.125.000

Pehitungan terkhir, Rp. 87.500.000 + Rp. 153.125.000 = Rp. 240.625.000

Jadi besaran pajak yang harus dibayarkan oleh perusahaan B adalah Rp. 240. 625.000


Ketiga, perusahaan C memiliki peredaran bruto sebesar Rp. 70.000.000.000 dengan penghasilan kena pajak sebesar Rp. 5.000.000.000. Rumus untuk jenis ketiga sangatlah mudah yakni (25% x Penghasilan kena pajak.

Jadi perhitungannya, 25% x Rp. 5.000.000.000 = Rp. 1.250.000.000

Jadi perusahaan C harus membayar pajak sebesar Rp. 1.250.000.000


Nah itulah cara hitung pajak perusahaan lengkap beserta contoh perhitungannya, sangat mudah bukan? Bagi para wajib pajak harus tahu cara hitung pajak ini supaya tidak keliru saat tiba waktu bayar pajak. Semoga bermanfaat.

No comments:
Write comments